Matematika Kelas 4-6 Karakter

Sekarang muncul lagi RPP yang baru yaitu RPP Karakter.  Silakan download aja RPP matematika ini yang ada tinggal klik masuk dah semua ke komputer.

Sekalian saya sertakan Silabus dan Pemetaan Kelas 4 – 6. Ini berisi Perangkat pembelajaran Matematika untuk kelas 4-6 mulai dari semester 1 – 2, karena Kelas 1-3 sudah menggunakan tematik dan sudah disiapkan disini.

Silabus Matematika Kelas 4 – 6 Semester 1 dan 2 klik disini

RPP Matematika Kelas 4 – 6 Semester 1 dan 2 klik disini

Pemetaan Matematika Kelas 4 – 6 Semester 1 dan 2 klik disini

semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu guru jangan lupa sebarkan ke taman-teman yang membutuhkan bantuan.

Dipublikasi di RPP SD | Tag , , , | Tinggalkan komentar

RPP Karakter Bahasa Inggris & Tematik Kls 1-3

Baru dapat RPP Karakter Kelas 1-6. Silakan klik dan unduh RPP yang kamu butuhkan, semoga RPP ini bermanfaat bagi kita semua…….

Jangan lupa untuk menyebarkan RPP ini ketaman yang membutuhkan.

  1. RPP Tematik Kelas 1 semester 1 dan 2 kilik disini
  2. RPP Tematik Kelas 2 semester 1 dan 2 kilik disini
  3. RPP Tematik Kelas 3 semester 1 dan 2 kilik disini
  4. RPP Bahasa Inggris Kelas 1-6 semester 1 dan 2 kilik disini
  5. Silabus Bahasa Inggris Kelas 1-6 semester 1 dan 2 kilik disini
  6. Pemetaan Bahasa Inggris Kelas 1-6 semester 1 dan 2 kilik disini

Mata pelajaran yang lain belum di uplod tunggu yaaaa dengan sabar…..

Dipublikasi di RPP SD | 1 Komentar

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN REMEDIAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA KELAS V SDN … DALAM MEMAHAMI MATERI KEBEBASAN BERORGANISASI

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Dalam UUD 1945 telah diatur hak warga negara Indonesia berorganisasi secara bebas khususnya dalam pasal 28 yaitu kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang‑undang. Kebebasan berorganisasi harus diiringi dengan sikap yang demokratis. Sikap yang tidak hanya dapat menikmati hak kebebasan individu tetapi juga harus memikul tanggung jawab secara bersama‑sama dengan orang lain untuk membentuk masa depan yang cerah. Jika masing-masing individu dalam suatu organisasi yang akan dibentuk memiliki sikap demokratis, maka organisasi tersebut akan dapat mewujudk­an tujuan yang ingin dicapai.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan selain keluarga dan masyarakat mempunyai peranan penting dalam mendidik suatu individu agar mengerti akan kebebasan berorganisasi dengan sikap yang demokratis. Pada tingkat Sekolah Dasar (SD), pembelajaran kebebasan berorganisasi diberikan sebagai salah satu materi dalam mata mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Pemberian materi pembelajaran didasarkan pada kurikulum 2006 Berstandar Kompetensi (KBK) Sekolah Dasar dan Madrasah lbtidaiyah yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokusk­an pada pembentukan diri yang beragam segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berk­arakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan, dari pembelajaran pendidikan kewarganegaraan tersebut adalah untuk memberikan kompetensi‑kompetensi sebagai berikut:

  1. Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
  2. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam. kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
  3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter‑karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa‑bangsa lainnya
  4. Berinteraksi dengan bangsa‑bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Di SDN …………… 1 Kec. …………… Kab. ……………, pembelajan pendidikan kewarganegaraan khasusnya materi kebebasan berorganisasi diberikan kepada siswa kelas V semester genap dengan waktu pernbelajaran 2 x 35 menit. Pembelajaran telah dilaksanakan dalam rangka penelitian tindakan kelas tanggal 3 Maret 2008 dengan dibantu teman sejawat (Bapak Jupri, S.Pd)­. Pada evaluasi pembelajaran yang dilakukan dengan tes tertutis, didapatikan bahwa dari 100 % (25 siswa) yang mengikuti tes, hanya 20 % (5 siswa) yang dianggap mampu memahami materi pembelajaran karena nilai yang didapat sudah sesuai dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan (66) pihak­ sekolah dan 80 % (20 siswa) masih dianggap belum mampu.

Dari hasil pengamatan tersebut, Guru (peneliti) meminta bantuan teman sejawat untuk mengidentifikasi masalah yang menjadi penyebab kegagalan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakam Terdapat beberapa masalah yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yaitu:

  1. Penguasaan siswa terhadap materi pelajaran sangat rendah.
  2. Guru kurang dapat menarik perhatian siswa.

B.    Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Bagaimana upaya peningkatan kemampuan pemahaman siswa  kelas V SDN …………… 1 Kec. …………… Kab. …………… terhadap materi kebebasan berorganisasi melalui pembetajaran remedial?

C.    Tujuan

Mendeskripsikan tingkat kemampuan pemahaaman. siswa kelas V SDN …………… 1 Kec. …………… Kab. …………… terhadap, materi kebebasan berorganisasi setelah pembelajaran remedial.

D.    Manfaat

Peneliti berharap laporan Penelitian program perbaikan pembelajaran ini dapat dirasakan manfaatnya bagi:

Siswa

Siswa dapat memahami pelajaran yang disampaikan Gurunya sehigga, pembelajaran menjadi aktif,  kreatif dan menyenangkan.

Guru

Lebih bijaksana dalam melihat kesulitan siswa serta dapat memilih metode mengajar yang sesuai sehingga dalam proses belajar mengajar memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan semua pihak

Dapat berkembang secara. professional karena dapat menunjukkan babwa, ia mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya

Membuat Guru lebih percaya diri, guru marnpu melaksanakan analisis, kinerjanya sendiri dalam kelas sehingga menemukan kekuatan dan kelemahan dan kemudian mengembangkan alternatif untuk mengatasinya

Mendapat kesempatan berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.

Mahasiswa

Memperoleh tambahan pengalaman dan pengetahuan tentang manfaat dan pengaruh pembelajaran remedial pendidikan kewarganegaraan khususnya yang berhubungan kebebasan berorganisasi.

Dipublikasi di Kumpulan PTK | Tag , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PENERAPAN GABUNGAN METODE CERAMAH DENGAN METODE SIMULASI UNTUK MENINGKATAKAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SISWA KELAS …………………………………………. TAHUN ……………./…………….

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang Masalah

Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi telah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan intruksional khusus. Jarang sekali terlihat guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Karenanya, guru pun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Pemakaian metode yang satu digunakan unutk mencapai tujuan yang satu, sementara penggunaan metode yang lain, juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain. Begitulah adanya, sesuai dengan kehendak tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.

Kualitas pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumberdaya manusia yang bermakna, sangat penting bagi pembangunan nasional. Bahkan dapat dikatakan masa depan bangsa bergantung pada keberadaan pendidikan yang berkualitas yang berlangsung di masa kini. Pendidikan yang berkualitas hanya akan muncul dari sekolah yang berkualitas. Oleh sebab itu, upaya peningkatan kualitas sekolah merupakan titik sentral upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas demi terciptanya tenaga kerja yang berkualitas pula. Dengan kata lain upaya peningkatan kualitas sekolah adalah merupakan tindakan yang tidak pernah terhenti, kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun.

Dalam upaya peningkatan kualitas sekolah, tenaga kependidikan yang meliputi, tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, teknis sumber belajar, sangat diharapkan berperan sebagaimana mestinya dan sebagai tenaga kependidikan yang berkualitas. Tenaga pendidik/guru yang berkualitas adalah tenaga pendidik/guru yang sanggup, dan terampil dalam melaksanakan tugasnya.

Tugas utama guru adalah bertanggung jawab membantu anak didik dalam hal belajar. Dalam proses belajar mengajar, gurulah yang menyampaikan pelajaran, memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam kelas, membuat evaluasi belajar siswa, baik sebelum, sedang maupun sesudah pelajaran berlangsung (Combs, 1984: 11-13). Untuk memainkan peranan dan melaksanakan tugas-tugas itu, seorang guru diharapkan memiliki kemampuan professional yang tinggi. Dalam hubungan ini maka untuk mengenal siswa-siswanya dengan baik, guru perlu memiliki kemampuan untuk melakukan diagnosis serta mengenal dengan baik cara-cara yang paling efektif untuk membantu siswa tumbuh sesuai dengan potensinya masing-masing.

Proses pembelajaran yang dilakukan guru memang dibedakan keluasan cakupannya, tetapi dalam konteks kegiatan belajar mengajar mempunyai tugas yang sama. Maka tugas mengajar bukan hanya sekedar menuangkan bahan pelajaran, tetapi teaching is primarily and always the stimulation of learner (Wetherington, 1986: 131-136), dan mengajar tidak hanya dapat dinilai dengan hasil penguasaan mata pelajaran, tetapi yang terpenting adalah perkembangan pribadi anak, sekalipun mempelajari pelajaran yang baik, akan memberikan pengalaman membangkitkan bermacam-macam sifat, sikap dan kesanggupan yang konstruktif.

Dengan tercapainya tujuan dan kualitas pembelajaran, maka dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar tentu saja diketahui setelah diadakan evalusi dengan berbagai factor yang sesuai dengan rumusan beberapa tujuan pembelajaran. Sejauh mana tingkat keberhasilan belajar mengajar, dapat dilihat dari daya serap anak didik dan persentase keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran khusus. Jika hanya tujuh puluh lima persen atau lebih dari jumlah anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf keberhasilan kurang (di bawah taraf minimal), maka proses belajar mengajar berikutnya hendaknya ditinjau kembali.

Setiap akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam perisiapan itu sudah terkandung tentang, tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar, secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evaluasi.

Sementara itu teknologi pembelajaran adalah salah satu dari aspek tersebut yang cenderung diabaikan oleh beberapa pelaku pendidikan, terutama bagi mereka yang menganggap bahwa sumber daya manusia pendidikan, sarana dan prasarana pendidikanlah yang terpenting. Padahal kalau dikaji lebih lanjut, setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal apalagi tingkat Sekolah Dasar, haruslah berpusat pada kebutuhan perkembangan anak sebagai calon individu yang unik, sebagai makhluk sosial, dan sebagai calon manusia seutuhnya.

Hal tersebut dapat dicapai apabila dalam aktivitas belajar mengajar, guru senantiasa memanfaatkan teknologi pembelajaran yang tidak terpaku hanya pada salah satu metode pengajaran dalam penyampaian materi dengan tujuan agar materi yang diajarkan dapat dengan mudah diserap peserta didik.

Khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru dengan baik, maka guru dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa metode pembelajaran,  guru akan memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci, tujuan yang ingin dicapai, baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal kepada siswa.

Dari latar belakang masalah tersebut, maka peneliti merasa terdorong untuk melihat pengaruh gabungan metode ceramah dengan metode simulasi terhadap prestasi belajar siswa dengan mengambil judul “Penerapan Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Simulasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Siswa Kelas ………………………………. Tahun Pelajaran………”.

B. Rumusan Masalah

Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah gabungan metode ceramah dengan metode simulasi berpengaruh terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa …………………………………………….  Tahun Pelajaran ……………./…………….?
  2. Bagaimanakah pengaruh gabungan metode ceramah dengan metode simulasi terhadap motivasi belajar siswa kelas ……………………………………. Tahun Pelajaran ……………./…………….?

C. Tujuan Penelitian

Berdasar atas perumusan masalaah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengungkap pengaruh gabungan metode ceramah dengan metode simulasi terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas ………………………………. Tahun Pelajaran ……………./……………..
  2. Untuk mengungkap gabungan metode ceramah dengan metode simulasi terhadap motivasi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas ……………………………….Tahun Pelajaran ……………./……………..

D. Manfaat Penelitian

1.   Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang gabungan metode ceramah dengan metode simulasi dalam meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

2.   Guru-guru Ilmu Pengetahuan Sosial perlu memanfaatkan teknik gabungan metode ceramah dengan metode simulasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dalam hal kualitas proses maupun kualitas hasil.

3.   Memberikan tanggung jawab dan rasa keadilan bagi guru dalam hal proses pembelajaran dengan tetap berpegang pada suatu pengertian bahwa siswa memerlukan perhatian guru.

E.   Definisi Operasional Variabel Penelitian

  1. Metode Ceramah adalah:

Adalah suatu cara penyampain bahan pelajaran dengan komunikasi lisan.

  1. Metode simulasi adalah:

Tingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang dimaksudkan, dengan tujuan agar orang itu dapat mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa dan berbuat sesuatu. Jadi siswa itu berlatih memegang perenan sebagai orang lain

  1. Motivasi belajar adalah:

Dorongan dan kemauan belajar yang dinyatakan dalam nilai atau skor yang setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar.

  1. Prestasi belajar adalah:

Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.

F.   Batasan Masalah

Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi:

  1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas …………………………TahunPelajaran ……………./……………..
  2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September semester ganjil tahun ajaran ……………./……………..
  3. Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan …………………………….
Dipublikasi di Kumpulan PTK | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PKn MELALUI METODE DISCOVERY PADA SISWA KELAS ……………………..TAHUN ………………..

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, guru  harus memikirkan dan membuat perencanaan secaraa seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya.

Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah subyek utama dalam belajar.

Mengajar adalah membimbing belajar siswa sehingga ia mampu belajar. Dengan demikian aktifitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga siswalah yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subyek didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Pada kenyataan, di sekolah-sekolah seringkali guru yang aktif, sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk aktif.

Pembelajaran PKn tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000:24).

Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu ada metode pembelajaran yang melibatkan siswa secaraa langsung dalam pembelajaran. Adapun metode yang dimaksud adalah metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama. (Felder, 1994:2).

Pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena “siswa lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari guru, karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan”. (Sulaiman dalam Wahyuni 2001: 2).

Pete Tschumi dari Universitas Arkansas Little Rock memperkenalkan suatu ilmu pengetahuan pengantar pelajaran komputer selama tiga kali, yang pertama siswa bekerja secaraa individu, dan dua kali secaraa kelompok. Dalam kelas pertama hanya 36% siswa yang mendapat nilai C atau lebih baik, dan dalam kelas yang bekerja secaraa kooperatif ada 58% dan 65% siswa yang mendapat nilai C atau lebih baik (Felder, 199: 14).

Berasarkan paparan tersebut di atas, maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar PKn Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD (Student Teams Achievement Division) Pada Siswa Kelas …………………………………. Tahun Pelajaran ……………………

B.     Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut:

1.      Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar PKn dengan diterapkannya metode Discovery pada siswa kelas …………………………… tahun pelajaran …./ ….?.

2.      Bagaimanakah pengaruh metode Discovery terhadap motivasi belajar PKn pada siswa kelas …….………………….. ……………tahun pelajaran …./ ….?.

C.     Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar PKn setelah diterapkannya Discovery pada siswa kelas ……………….. ………………..tahun pelajaran  …./ …..
  2. Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar PKn setelah diterapkannya Discovery pada siswa kelas……………..…  …………………..tahun pelajaran …./ …..
  3. Memberikan gambaran tentang metode pembelajaran yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dan menjadikan siswa menjadi aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

D.   Hipotesis Tindakan

Berdasarkan pada permasalahan dalam penelitian tindakan yang berjudul ……………………………. yang dilakukan oleh peneliti, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:

“Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas ………………. menggunakan metode………………. dalam menyampaikan materi pembelajaran, maka dimungkinkan minat belajar dan hasil belajar siswa kelas …………………… akan lebih baik dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebelumnya”.

D.    Manfaat Penelitian

     Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:

  1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru PKn dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar PKn.
  2. Sumbangan pemikiran bagi guru PKn dalam mengajar dan meningkatkan  pemahaman siswa belajar PKn.
  3. Proses belajar mengajar PKn tidak lagi monoton.
  4. Ditemukannya strategi pembelajaran yang tepat, tidak konvesional tetapi variatif.
  5. Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas mandiri maupun kelompok meningkat.
  6. Menjadikan bahan ajar lebih menarik, sehingga proses pembelajaran sesuai dengan tujuan dan prestasi akademik siswa semakin meningkat.

E.     Penjelasan Istilah

       Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap tujuan ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut  :

1.      Metode pembelajaran kooperatif adalah :

      Suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkkan siswa ke dalam kelompok – kelompok kecil untuk bekerja sama dalam pemechan masalah dengan kemampuan siswa dalam setiap kelompok yang heterogen.

2.      Motivasi belajar adalah :

      Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalan diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

3.   Prtestasi belajar adalah :

      Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.

F.      Batasan Masalah

Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi :

1.      Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas ……………………………..

      ………….. Tahun Pelajaran ……….

2.      Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November semester ganjil tahun pelajaran …………..

3.      Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan …………………..

Dipublikasi di Kumpulan PTK | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

UPAYA MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV DALAM PEMBELAJARAN IPS TENTANG KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI BUDAYA BANGSA MELALUI BELAJAR KOOPERATIF DAN KOLABORATIF DI SDN ………………………… KECAMATAN ………….. KABUPATEN …………………

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bagian dari mata pelajaran Non Eksakta, tetapi tingkat kesulitan materi membawa dampak bagi siswa kurang berminat. Hal ini disebabkan oleh salah satu ciri dari materi IPS yang bersifat umum. Ada istilah yang menyebutkan bahwa mata pelajaran IPS dengan sebutan Ilmu Pengetahuan Umum.

Pandangan masing-masing siswa secara mayoritas pada mata pelajaran IPS sangat sulit, dan sangat menuntut pemahaman runtinitas belajar dengan giat. Mata Pelajaran ini juga menuntut pemahaman yang akurat. Seringkali potensi anak yang kurang mendukung, maka hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS ini secara otomatis mayoritas rendah.

Bagi guru yang mengajar mata pelajaran IPS juga dinuntut kesiapan yang serius dalam mengusai materi. Seorang guru yang mengajar IPS apabila tidak menguasai materi, dalam penyampaian materi kepada siswa akan disibukkan dengan membaca daripada menjelaskan materinya.

Kesulitan lain sering dijumpai, manakala guru dan siswa membahas soal yang bersifat subyektif. Hal ini memancing pertanyaan-pertanyaan dan usulan-usulan tentang jawaban yang dimiliki oleh setiap siswa. Dampaknya ketika guru menentukan skor nilai juga tidak terkontrol patokannya.

Fenomena diatas sekaligus menjadikan dasar pemikiran bagi penulis untuk mencari alternatif yang tepat dalam mengembangkan pembelajaran IPS bagi siswa. Alternatif ini diharapkan dapat membangkitkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS. Apalagi di era model pembelajaran yang bersifat kontemporer sekarang ini, guru semakin dituntut untuk mengembangkan pembelajaran IPS yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dan argumentasi tersebut, didalam pengelolaan kelas, guru harus mampu menentukan alternatif model pembelajaran yang tepat termasuk dalam menentukan metode, pendekatan, sarana dan media yang sesuai dengan yang dibahas dalam setiap proses pembelajaran.

Dalam kegiatan perbaikan pembelajaran ini penulis mengangkat sebuah model pembelajaran yang disebut belajar kooperatif dan kolaboratif. Model pembelajaran ini menawarkan pada guru maupun siswa dapat berperan aktif dan mengurangi kejenuhan siswa dalam pembelajaran IPS. Ciri utama dari model pembelajaran ini adalah sangat menghargai perbedaan intelektual.

Maksud dan tujuan model pembelajaran ini diterapkan adalah untuk menanamkan penguasaan materi-materi dalam pelajaran IPS secara mendasar, sehingga dapat membangkitkan potensi siswa dalam berargumentasi. Maka dapat ditegaskan masalah yang diangkat dalam penelitian tindakan kelas ini adalah upaya meningkatkan minat belajar siswa kelas IV dalam pembelajaran mata pelajaran IPS tentang kedudukan Pancasila sebagai budaya bangsa melalui belajar kooperatif dan kolaboratif.

B. Rumusan Masalah

Dari paparan diatas dapat diambil sebuah rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana penerapan model pembelajaran belajar kooperatif dan kolaboratif dalam proses pembelajaran tentang kedudukan Pancasila sebagai budaya bangsa ?
  2. Apakah model pembelajaran belajar kooperatif dan kolaboratif dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas IV dalam pembelajaran IPS ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif dan kolaboratif dalam proses pembelajaran IPS tentang materi kedudukan Pancasila sebagai budaya bangsa.
  2. Mendeskripsikan tentang tingkatan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran IPS dalam pembahasan materi kedudukan Pancasila sebagai budaya bangsa dan melalui model pembelajaran belajar kooperatif dan kolaboratif.

D. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat dari kegiatan perbaikan pembelajaran ini, antara lain :

  1. Secara urgensif sebagai peningkatan kompetensitas bagi guru yang melalukan perbaikan pembelajaran.
  1. Hasil kegiatan ini yang telah disusun menjadi laporan akan menambah referensi pada satuan lembaga pendidikan tersebut.
  2. Bilamana penelitian ini menghasilkan kesimpulan dan hasil yang valid maka akan bermanfaat sebagai acuan bagi praktisi pendidikan dalam mengembangkan kompesitasnya.

 

Dipublikasi di Kumpulan PTK | Tag , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

IPA TENTANG PERPINDAHAN ENERGI PANAS MELALUI METODE EKSPERIMEN

BAB I

                                                   PENDAHULUAN                 

 

A. Latar Belakang

Pembelajaran dalam mata pelajaran IPA secara umum menekankan pada hasil belajar yang bersifat pragtis. Hal ini dikarenakan materi dari mata pelajaran IPA berorientasi pada benda-benda alam yang berada di lingkungan sekitar siswa. Tingkatan kandungan materi juga sangat bervariasi, yang salah satunya memiliki sifat eksperimental. Hasil belajar dalam pembelajaran materi ini siswa tidak dapat memahami secara penuh tanpa melalui kegiatan eksperimen.

Sehubungan dengan pokok materi yang dibahas, yaitu perpindahan energi panas tentunya tidak cukup dalam mengupayakan pemahaman siswa tentang konsep yang bersifat kognitif hanya dengan penjelasan secara pragmatis. Lebih dari itu, materi ini perlu pembuktian secara praktis yaitu dengan mendemontrasikan melalui percobaan.

Terkait dengan hal-hal diatas, yang perlu diperhatikan juga adalah kondisi siswa yang belajar. Siswa kelas IV sekolah dasar dipandang dari sudut masa perkembangan jiwanya masih berada pada dunia bermain dan kepekaan memorinya masih berorientasi pada hal-hal yang bersifat konkrit. Sebuah konsep akan lebih mudah dipahami manakali dapat alami dan dinikmati secara jelas. Materi pokok tentang perpindahan energi panas akan menghasilkan  pemahaman yang abstrak manakala prosedur dan strategi pembelajaran ditentukan dengan tepat. Sangat tidak mungkin bila siswa dituntut menerima materi kemudian siswa dituntut menghafal dan memahami dari definisi tentang perpindahan energi panas dengan menirukan definisi yang dilafalkan oleh guru atau yang dijabarkan dalam buku paket. Termasuk juga bila siswa dituntut mengungkapkan pengertian dari perpindahan energi panas dan penjabarannya dengan bahasa yang sama dari istilah yang sama. Hal inilah yang dimaksud pembelengguan kreativitas belajar siswa dalam membangun pemahaman materi yang diajarkan.

Beberapa fenomena diatas merupakan ciri khas dari proses pembelajaran yang bersifat tradisional. Tapi belum berarti model pembelajaran tersebut tidak lagi diterapkan pada model pembelajaran era sekarang ini.

Yang perlu kita perhatikan pada sebuah prinsip, bahwa segala sesuatu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tidak sedikit dari fakta tentang penerapan pembelajaran model tradisional mampu menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi. Dan sebaliknya penerapan model pembelajaran yang baru yang lebih cenderung pada kontektualitas justru mempersempit pemahaman siswa pada sebuah konsep. Prinsip yang perlu dibangun adalah bahwa sebuah sistem tidak akan mampu berdiri sendiri, termasuk sebuah sistem yang berhubungan dengan dunia pendidikan.

Atas dasar pemikiran diatas penulis merumuskan sebuah judul Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Pemahaman siswa kelas IV dalam pembelajaran IPA tentang perpindahan energi panas melalui metode eksperimen. Perumusan judul tersebut didasarkan pengalaman seorang guru dalam proses pembelajaran yang terkait suasana dan kondisi belajar siswa serta hasil belajar yang dicapai dalam pokok materi perpindahan energi panas dengan menerapkan pembelajaran tradisional. Kemudian dibandingkan dengan penerapan pembelajaran yang ditetapkan sebagai refleksitas tindakan. Hasil laporan ini menekankan pada kesimpulan yang valid bahwa materi pokok perpindahan energi panas akan lebih tepat dengan menerapkan metode eksperimen dengan pendekatan ketrampilan proses dengan didukung media tiga dimensi yang berwujud nyata.

B. Rumusan Masalah

Dari paparan diatas dapat diambil sebuah rumusan masalah yang meliputi :

  1. Bagaimana penerapan metode eksperimen dalam proses pembelajaran IPA pada materi pokok perpindahan energi panas ?
  2. Apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam materi pokok perpindahan energi panas ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk :

  1. Mendeskripsikan penerapan metode eksperimen pada proses pembelajaran IPA dengan materi pokok perpindahan energi panas.
  2. Mendeskripsikan tentang tingkat pemahaman siswa tentang perpindahan energi panas melalui metode eksperimen

D. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat dari kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini, yaitu :

  1. Secara urgensif sebagai peningkatan kompetensitas bagi guru yang melakukan penelitian
  2. Hasil penelitian yang telah tersusun dalam bentuk laporan akan menambah referensi pada satuan lembaga pendidikan tersebut.
  3. Manakala penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang valid akan bermanfaat sebagai acuan bagi praktisi pendidikan dalam mengembangkan kompetensitasnya.

 

Dipublikasi di Kumpulan PTK | 1 Komentar